Selasa, 19 Agustus 2014

Keutamaan Shalat Fajar

Bismillah ..
KEUTAMAAN SHOLAT FAJAR
عن عائشة عن النبي قال (( ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها )). رواه مسلم. وفي رواية (( لهما أحب إلي من الدنيا جميعاً ))
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Dua raka’at Shalat Fajr lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”
[HR. Muslim]
Dalam riwayat lain dengan lafazh :
“Sungguh kedua raka’at tersebut lebih aku cintai daripada dunia semuanya.”
✅Makna Kalimat :
Shalat Fajr : yakni Shalat Sunnah Rawatib Qabliyah Shubuh.
lebih baik dari pada dunia : yakni lebih baik daripada perhiasan dunia.
Ada juga yang berpendapat maknanya : lebih baik daripada menginfakkan harta dunia di jalan Allah.
▪Makna pertama lebih tepat.
✅Pelajaran dari Hadits :
1. Keutamaan akhirat dibanding dunia. Karena perhiasan dunia, bagaimanapun indah dan mahalnya, maka itu semua akan hilang dan sirna. Adapun akhirat, maka kenikmatannya kekal selama-lamanya dan tidak akan sirna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ [النحل/96]
“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
[An-Nahl : 96]
Maka orang yang berakal sehat tidak akan menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang fana dengan meninggalkan yang kekal. Namun seorang yang berakal sehat adalah seorang yang senantiasa memperhatikan dan bersemangat terhadap sesuatu yang membawa kebaikan untuk akhiratnya, dengan tetap mencari kehidupan dunia sekadar mencukupi kebutuhannya.
 Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا [القصص/77]
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kehidupan dunia.”
[Al-Qashash : 77]
. Betapa besar nilai pahala yang Allah berikan untuk dua rakaat shalat fajr (yakni shalat sunnah rawatib qabliyah shubuh), padahal dua raka’at tersebut adalah amalan yang ringan. Ini merupakan salah satu bentuk keutamaan dan keluasan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.
. Jika seorang muslim telah mengetahui betapa besar nilai pahala shalat fajr, maka selayaknya dia untuk senantiasa menjaganya. 
Sungguh dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar menjaga shalat fajr tersebut dengan sebenar-benar penjagaan, sampai-sampai ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan :
“Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan kedua rakaat tersebut.”
beliau juga menuturkan :
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjaga amalan nafilah lebih kuat dibanding konsistensi beliau menjaga dua rakaat fajr.”
. Tuntutan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melaksanakan dua rakaat ini dengan ringan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan pelaksanaan dua rakaat shalat yang dikerjakan sebelum shalat shubuh, sampai-sampai aku mengatakan, ‘Apakah beliau membaca Ummul Kitab‘?” [Muttafaqun ‘alaihi] 
5 Tuntunan sunnah pada rakaat pertama setelah surat Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua setelah surat Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlash (Qul huwallahu ahad).
🔹Atau boleh juga pada rakaat pertama membaca ayat :
قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136) [البقرة/136]
Katakanlah (wahai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.
[Al-Baqarah : 136]
🔹Sedangkan pada rakaat kedua membaca :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64) [آل عمران/64]
“Katakanlah: “Wahai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, yaitu kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan tidak kita persekutukan-Nya dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb-Rabb selain Allah”.
Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
[Ali ‘Imran : 64]
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah :
أن رسول الله قرأ في ركعتي الفجر ( قل يا أيها الكافرون ) و (قل هو الله أحد) رواه أبو داود
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada shalat dua rakaat fajr surat “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan surat “Qul Huwallahu Ahad”
[HR. Abu Dawud]
Shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan :
كان رسول الله يقرأ في ركعتي الفجر (قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا ) والتي في آل عمران ( تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ) رواه مسلم
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada dua rakaat fajr :
(قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا )
dan berikutnya ayat yang pada surat Ali ‘Imran”
( تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم )
[HR. Muslim]
 Apabila seorang muslim mengerjakan shalat fajr tersebut di rumahnya, kemudian dia merasa ingin istirahat sejenak, seperti kalau sebelumnya ia telah mengerjakan shalat tahajjud dengan sangat panjang, maka dituntunkan baginya untuk berbaring pada bagian kanan, dengan syarat dia yakin bahwa ia tidak akan ketinggalan shalat shubuh berjama’ah di masjid.
 Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :
“Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila shalat dua rakaat fajr, beliau kemudian berbaring pada bagian kanannya.”
[HR. Al-Bukhari] 
. Shalat sunnah fajr adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum shalat shubuh. Apabila dia sampai ke masjid ternyata iqamat sudah dikumandangkan (sementara dia belum sempat mengerjakan shalat fajr), maka ia tetap langsung shalat shubuh berjama’ah bersama imam. Kemudian dia bisa mengerjakan shalat sunnah fajr tersebut setelah shalat berjama’ah shubuh. Atau kalau dia mau, dia menunggu sampai matahari terbit dan mengerjakannya ketika matahari sudah tinggi.
Dari shahabat Qais bin ‘Amr :
رأى رسول الله رجلا يصلي بعد صلاة الصبح ركعتين، فقال رسول الله: ( صلاة الصبح ركعتان ) فقال الرجل : إني لم أكن صليت الركعتين اللتين قبلهما، فصليتهما الآن. فسكت رسول الله
“Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang pria shalat dua rakaat setelah shalat shubuh.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegurnya, “Shalat shubuh itu hanya dua rakaat.”
Maka pria tersebut menjawab, “Aku tadi belum sempat mengerjakan shalat dua rakaat yang dikerjakan sebelumnya (yakni qabliyah shubuh), maka aku mengerjakannya sekarang.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diam (tanda setuju).
[HR. Abu Dawud. Dan Al-Imam Al-Mubarakfuri mentarjih hadits ini shahih, dalam kitab beliau Tuhfatul Ahwadzi Syarh At-Tirmidzi).
http://www.assalafy.org/mahad/?p=323#more-323
darussalaf.or.id

Minggu, 29 Juni 2014

Memakai Celak Bagi Wanita Dan Juga Bagi Lelaki?

Bismillah ..

Oleh : Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
Masalah bercelak ada dua macam:
** Pertama: Bercelak dengan tujuan menajamkan pandangan mata dan menghilangkan kekaburan dari mata, membersihkan mata dan menyucikannya tanpa ada maksud berdandan. Hal ini diperkenankan. Bahkan termasuk perkara yang semestinya dilakukan (bagi lelaki maupun wanita, pen.)
Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencelaki kedua mata beliau, terlebih lagi bila bercelak dengan itsmid (Celak jenis tertentu).
** Kedua: Bercelak dengan tujuan berhias dan dipakai sebagai perhiasan. Hal ini dituntut untuk dilakukan para wanita/istri, karena seorang istri dituntut berhias untuk suaminya. Adapun bila lelaki memakai celak dengan tujuan yang kedua ini maka harus ditinjau ulang masalah hukumnya. Saya sendiri bersikap tawaqquf (tidak melarang tapi tidak pula membolehkan, pen.) dalam masalah ini. Terkadang pula dibedakan dalam hal ini antara pemuda yang dikhawatirkan bila ia bercelak akan menimbulkan fitnah, maka ia dilarang memakai celak, dengan orang tua (lelaki yang tidak muda lagi) yang tidak dikhawatirkan terjadi fitnah bila ia bercelak.”
(Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 8-11)
Sumber: www.Asysyariah.com, Penulis : Redaksi Sakinah, Judul: Hukum Sekitar Berhias
http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/01/19/seputar-hukum-berhias-bagi-wanita/

Senin, 26 Mei 2014

TEMAN DUDUK YANG MENGUNTUNGKAN

Bismillah

catatanmms95



عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: )) إن لله ملائكة يطوفون في الطرق يلتمسون أهل الذكر ، فإذا وجدوا قوما يذكرون الله تعالى تنادوا: هلموا إلى حاجتكم ، فيحفون بأجنحتهم إلى السماء الدنيا ، فيسألهم ربهم وهو أعلم بهم : ما يقول عبادي ، قال: يقولون: يسبحونك و يكبرونك ويحمدونك و يمجدونك ، فيقول: هل رأوني؟ فيقولون: لا والله ما رأوك. فقال كيف لو رأوني ؟ فيقولون: لو رأوك كانوا أشد لك عبادة وأكثر لك تحميدا و تمجيدا وأكثر لك تسبيحا. فما يسألني ؟ قالوا: يسألونك الجنة. فيقول : هل رأوها؟ فيقولون: لا والله يا رب ما رأوها . فيقول: كيف لو أنهم رأونها ؟ فيقولون لو أنهم رأونها كانوا أشد حرصا عليها وأشد لها طلبا وأشد فيها رغبة ، قال: فمما يتعوذون ؟ فيقولون من النار ، فيقول: هل رأوها؟ فيقولون: لا والله يا رب ما رأوها ، فيقول: كيف لو رأوها ؟ فيقولون : لو أنهم رأوها كانوا أشد منها فرارا وأشد لها مخافة ، فيقول الله تعالى: أشهدكم أني قد غفرت لهم ،فيقول ملك من الملائكة: فيهم فلان ليس منهم إنما جاء لحاجته ، قال: هم الجلساء لا يشقى جليسهم ((. رواه البخاري و مسلم.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari orang yang berzikir. Apabila mendapati kaum yang sedang berzikir, mereka memanggil yang lain seraya mengatakan, ‘Kemarilah, ini yang kalian cari.’ Mereka pun mengelilingi orang-orang yang berzikir dengan sayap-sayapnya sampai memenuhi langit dunia.
 Allah bertanya kepada para malaikat, walau sesungguhnya Dia lebih tahu keadaan mereka, ‘Apa yang diucapkan hamba-hamba-Ku?’
 Mereka menjawab, ‘Mereka menyucikan-Mu, membesarkan-Mu, memuji-Mu dan menyanjung-Mu.’
 Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat-Ku?’
 Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah Wahai Rabbku, mereka tidak pernah melihat-Mu.’
 Allah bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau seandainya mereka melihat-Ku?’
 Mereka menjawab, ‘Jika mereka melihat-Mu, niscaya mereka lebih semangat beribadah kepada-Mu, lebih banyak memuji dan menyucikan-Mu.’
 Allah bertanya, ‘Apa yang mereka pinta?’
 Malaikat menjawab, ‘Surga-Mu.’
 Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Robbku, mereka tidak pernah melihatnya.’
 Allah bertanya, ‘Bagaimana kalau seandainya mereka melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Jika mereka melihatnya, niscaya mereka lebih semangat dalam memintanya dan sangat berharap untuk mendapatkannya.’
 Allah bertanya, ‘Apa yang mereka takutkan?’
 Malaikat menjawab, ‘Mereka berlindung kepada-Mu dari Api Neraka.’
 Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Raabku, mereka tidak pernah melihatnya.’
 Allah bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau mereka melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Kalau mereka melihatnya, niscaya mereka akan sangat takut darinya dan sangat menjauhinya.’
 Kemudian Allah menyatakan, ‘Aku bersaksi di hadapan kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.’
 Maka salah satu dari malaikat mengatakan, ‘Di dalam kumpulan itu ada fulan, dia bukan termasuk orang-orang yang berzikir, dia datang hanya untuk mencari kebutuhannya saja.’
 Maka Allah berfirman, ‘Mereka (orang-orang yang berzikir itu) adalah kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduknya, bahkan menguntungkannya.’
(H.R. Bukhari dan Muslim.)
Faedah dari al-Akh Saidan
(salah satu thalib di Daarul Hadits, Fuyusy)

Sumber : http://catatanmms.wordpress.com/2014/05/26/teman-duduk-yang-menguntungkan/