Senin, 26 Mei 2014

TEMAN DUDUK YANG MENGUNTUNGKAN

Bismillah

catatanmms95



عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: )) إن لله ملائكة يطوفون في الطرق يلتمسون أهل الذكر ، فإذا وجدوا قوما يذكرون الله تعالى تنادوا: هلموا إلى حاجتكم ، فيحفون بأجنحتهم إلى السماء الدنيا ، فيسألهم ربهم وهو أعلم بهم : ما يقول عبادي ، قال: يقولون: يسبحونك و يكبرونك ويحمدونك و يمجدونك ، فيقول: هل رأوني؟ فيقولون: لا والله ما رأوك. فقال كيف لو رأوني ؟ فيقولون: لو رأوك كانوا أشد لك عبادة وأكثر لك تحميدا و تمجيدا وأكثر لك تسبيحا. فما يسألني ؟ قالوا: يسألونك الجنة. فيقول : هل رأوها؟ فيقولون: لا والله يا رب ما رأوها . فيقول: كيف لو أنهم رأونها ؟ فيقولون لو أنهم رأونها كانوا أشد حرصا عليها وأشد لها طلبا وأشد فيها رغبة ، قال: فمما يتعوذون ؟ فيقولون من النار ، فيقول: هل رأوها؟ فيقولون: لا والله يا رب ما رأوها ، فيقول: كيف لو رأوها ؟ فيقولون : لو أنهم رأوها كانوا أشد منها فرارا وأشد لها مخافة ، فيقول الله تعالى: أشهدكم أني قد غفرت لهم ،فيقول ملك من الملائكة: فيهم فلان ليس منهم إنما جاء لحاجته ، قال: هم الجلساء لا يشقى جليسهم ((. رواه البخاري و مسلم.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari orang yang berzikir. Apabila mendapati kaum yang sedang berzikir, mereka memanggil yang lain seraya mengatakan, ‘Kemarilah, ini yang kalian cari.’ Mereka pun mengelilingi orang-orang yang berzikir dengan sayap-sayapnya sampai memenuhi langit dunia.
 Allah bertanya kepada para malaikat, walau sesungguhnya Dia lebih tahu keadaan mereka, ‘Apa yang diucapkan hamba-hamba-Ku?’
 Mereka menjawab, ‘Mereka menyucikan-Mu, membesarkan-Mu, memuji-Mu dan menyanjung-Mu.’
 Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat-Ku?’
 Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah Wahai Rabbku, mereka tidak pernah melihat-Mu.’
 Allah bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau seandainya mereka melihat-Ku?’
 Mereka menjawab, ‘Jika mereka melihat-Mu, niscaya mereka lebih semangat beribadah kepada-Mu, lebih banyak memuji dan menyucikan-Mu.’
 Allah bertanya, ‘Apa yang mereka pinta?’
 Malaikat menjawab, ‘Surga-Mu.’
 Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Robbku, mereka tidak pernah melihatnya.’
 Allah bertanya, ‘Bagaimana kalau seandainya mereka melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Jika mereka melihatnya, niscaya mereka lebih semangat dalam memintanya dan sangat berharap untuk mendapatkannya.’
 Allah bertanya, ‘Apa yang mereka takutkan?’
 Malaikat menjawab, ‘Mereka berlindung kepada-Mu dari Api Neraka.’
 Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Raabku, mereka tidak pernah melihatnya.’
 Allah bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau mereka melihatnya?’
 Malaikat menjawab, ‘Kalau mereka melihatnya, niscaya mereka akan sangat takut darinya dan sangat menjauhinya.’
 Kemudian Allah menyatakan, ‘Aku bersaksi di hadapan kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.’
 Maka salah satu dari malaikat mengatakan, ‘Di dalam kumpulan itu ada fulan, dia bukan termasuk orang-orang yang berzikir, dia datang hanya untuk mencari kebutuhannya saja.’
 Maka Allah berfirman, ‘Mereka (orang-orang yang berzikir itu) adalah kaum yang tidak akan mencelakakan teman duduknya, bahkan menguntungkannya.’
(H.R. Bukhari dan Muslim.)
Faedah dari al-Akh Saidan
(salah satu thalib di Daarul Hadits, Fuyusy)

Sumber : http://catatanmms.wordpress.com/2014/05/26/teman-duduk-yang-menguntungkan/

Selasa, 06 Mei 2014

BOLEHKAH ORANG YANG JUNUB, BERWUDHU SAJA JIKA AIR SANGAT DINGIN ?





Bolehkah-orang-junub-berwudhu-karena-air-dingin1

 BOLEHKAH ORANG YANG JUNUB, BERWUDHU SAJA
JIKA AIR SANGAT DINGIN ?
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah

Penanya:
Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, penanya mengatakan: “Saya mengalami junub, sementara saya tidak memiliki air panas, maka saya membasuh kemaluan dengan air dingin, lalu saya berwudhu dengan air dingin tersebut dan tidak bertayamum, kemudian saya mengerjakan shalat. Apakah perbuatan saya tersebut benar?


Asy-Syaikh:

Yang wajib adalah dengan engkau mandi dengan air, kecuali jika engkau mengkhawatirkan bahaya karena air yang sangat dingin dan engkau tidak mampu memanaskannya, airnya sangat dingin yang engkau tidak mampu menahan rasa dinginnya, sementara engkau tidak mampu memanaskannya, maka cukup bagimu untuk tayammum dengan debu dan mengerjakan shalat.

Adapun jika engkau mampu memanaskan air seperti dengan kayu bakar atau gas, maka wajib untuk menggunakan air (mandi –pent).

Sumber artikel:
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7917

Etika Bermajelis

Bismillah

Etika bermajelis
1. Hendaknya memberi salam kepada orang-orang yang di dalam majlis di saat masuk dan keluar dari majlis tersebut.
Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu telah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk maka duduklah ia. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah yang pertama lebih berhak daripada yang selanjutnya.”
(HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani).
2. Hendaknya duduk di tempat yang masih tersisa.
Jabir bin Samurah telah menuturkan:
“Adalah kami, apabila kami datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka masing-masing kami duduk di tempat yang masih tersedia di majlis.”
(HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).
3. Jangan sampai memindahkan orang lain dari tempat duduknya kemudian mendudukinya, akan tetapi berlapang-lapanglah di dalam majlis.
Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Seseorang tidak boleh memindahkan orang lain dari tempat duduknya, lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.”
(Muttafaq’alaih).
4. Tidak duduk di tengah-tengah halaqah (lingkaran majlis).
5. Tidak duduk di antara dua orang yang sedang duduk kecuali seizin mereka.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya”.
(HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
6. Tidak boleh menempati tempat duduk orang lain yang keluar sementara waktu untuk suatu keperluan.
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya”.
(HR.Muslim)
7. Tidak berbisik berduaan dengan meninggalkan orang ketiga.
Ibnu Mas`ud Radhiallaahu ‘anhu menuturkan : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Apabila kamu tiga orang, maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian bercampur baur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih”.
(Muttafaq’alaih).
8. Para anggota majlis hendaknya tidak banyak tertawa.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati”.
(HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al- Albani).
9. Hendaknya setiap anggota majlis menjaga pembicaraan yang terjadi di dalam forum (majlis).
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seseorang membicarakan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh, maka itu adalah amanat”.
(HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
10. Anggota majlis hendaknya tidak melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan perasaan orang lain, seperti menguap atau membuang ingus atau bersendawa di dalam majlis.
11. Tidak melakukan perbuatan memata-matai.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang”.
(Muttafaq’alaih).
12. Disunnatkan menutup majlis dengan do`a Kaffarat majlis
karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barang siapa yang duduk di dalam suatu majlis dan di majlis itu terjadi banyak gaduh, kemudian sebelum bubar dari majlis itu ia membaca : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu; aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disembah selain engkau; aku memohon ampunanmu dan aku bertobat kepada-Mu”, melainkan Allah mengampuni apa yang terjadi di majlis itu baginya”.
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al- Albani).
Sumber : http://catatanmms.wordpress.com/etika-bermajelis/