Rabu, 15 Januari 2014

Jagalah HIDAYAH Sahabat ..

Bismillahirahmanirahiim


JAGALAH HIDAYAH wahai sahabatku…

Al Imam Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kisah di dalam Al Bidayah wan Nihayah tentang seorang
‘alim minal ‘ulama, zahidi minal zuhad, ‘abidun minal ‘ibad. Seorang yang sudah merasakan nikmatnya
Al Quran dan lezatnya hadits nabi. Ibadah berpuasa, sholat malam, akhirnya dia terfitnah dengan
sebuah dosa.

Ia tertarik dengan seorang wanita Nashrani yang cantik yang mensyaratkan tidak akan 
menerima lamaran sebelum ia masuk ke dalam agama Nashrani.

Ia memperturutkan hawa nafsu,
 nikmat dunia. Tidak menghargai hidayah yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Akhirnya ia menikahi wanita
 tersebut dan masuk ke dalam agama Nashrani. Hal ini terjadi ketika beliau sedang berjihad di front
terdepan melawan orang-orang kafir, karena tertarik dengan wanita Nashrani ia tinggalkan jihad.

Beberapa lama kemudian kawan-kawanya yang terdahulu menemuinya kemudan bertanya,

“Wahai fulan, apakah masih ada Al Quran yang engkau hapal? Kata lelaki ini, “Demi Allah tidak ada Al Quran
pun yang tersisa yang aku hapal kecuali satu ayat saja.

Ayat tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

“Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (didunia) menjadi orang-orang muslim.” (Al Hijr: 2)

Artinya dia paham bahwasanya dia telah terjatuh ke dalam kekufuran dan kesalahan tetapi dengan 
dosa dan kemaksiatan yang dia perbuat, setiap kali dia ingin kembali kepada kebenaran Allah halangi dia disebabkan dosa dan kemaksiatan, disebabkan tidak menghargai hidayah yang telah diberikan oleh
 Allah Azza wajalla.

Dan hal ini bukanlah suatu hal yang tidak mungkn terjadi pada diri kita.

Maka tugas kita yang berkutnya adalah menjaga hidayah ini.

Menjaga tetap 
istiqamah di jalan kebenaran dengan tetap terus menuntut ilmu syar’i, dengan
menjauhi kemaksiatan dan dosa, memperbanyak taubat dan istighfar karena tidak ada jaminan bagi kita bahwa hingga kita menghembuskan nafas yang terakhir
kita masih berada berpijak di atas jalan kebenaran ini.

Setelah Allah Azza wajalla berikan hidayah yang manis ini, janganlah engkau menerjunkan diri ke  
dalam fitnah dunia, menjauhi majelis taklim.

Maka bukanlah suatu hal yang mustahil Allah Ta’ala tarik 
dan cabut hidayah tersebut.

Hanya sedikit dari hamba-hamba Allah yang dipilih untuk mengenal 
hidayah.

La haulaa walaa quwwata illa billah..
yaa muqollibal qulub tsabit qolbii ala dienik..


(tulisan Al Akh Nuruddin – Yaman)

Selasa, 14 Januari 2014

Hati-Hati Dosa Besar Bernama Namimah

Catatanmms 51

(Al Ustadz Idral Harits Hafizhahullah

Namimah, dosa Besar yang Berbahaya tetapi mudah ditinggalkan..

Allah Ta’ala berfirman (al qalam 10-11):

ولا تطع كل حلاف مهين. هماز مشاء بنميم..

Tentang dua ayat yang mulia ini, syaikh As Sa’di menjelaskan  artinya, dia orang yang banyak bersumpah, yakni terlalu sering bersumpah, karena dia adalah seorang pendusta dan hina. Jiwa dan kemauannya rendah, keinginannya hanya urusan syahwat..suka mencacati dan mengecam orang lain, dengan ghjbah, olok-olokan (istihza’)..berjalan ke sana ke mari mengadu domba, melakukan namimah..

💥Namimah ialah menukil satu ucapan dari seseorang lalu disampaikan kepada orang lain untuk merusak hubungan antara mereka dan menimbulkan permusuhan serta kebencian.

💥Namimah adalah salah satu dosa besar dan sebab seseorang disiksa di dalam kuburnya..

Namimah bukan perkara yang sulit dijauhi atau dihindari..

Rasulullaah shallallahu’alaihiwasallam bersabda ketika melewati dua kuburan:

إنهما ليعذبان. وما يعذبان في كبير..أماأحدهما فكان لا يستبرئ من البول. وأما الآخر يمشي بالنميمة..

“Keduanya sedang disiksa, dan disiksa bukan dalam urusan besar (sulit ditinggalkan). Yang satu karena tidak bersih dari BAK (buang air kecil), yang satu lagi ke sana ke mari berbuat namimah..”

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

لايدخل اجنة قتات…. (القتات النمام)..

“Tidak akan masuk surga orang yang suka dan selalu berbuat namimah..”

Betapa sering terjadi, dua orang berteman akhirnya menjadi musuh bebuyutan, saling benci dan menjatuhkan karena namimah. Ada dikisahkan, seseorang membeli budak, tidak ada cacatnya kecuali suka namimah, suatu ketika dia berkata kepada istri orang yang membelinya: suamimu tidak menyintaimu dan lebih cinta kepada madumu, kalo dia datang, ambil pisau cukur dan cukurlah rambut di tengkuknya, kemudian  kepada si suami, budak itu berkata: istrimu tidak mencintaimu, dia punya simpanan, dan ingin membunuhmu…

Malam harinya, dua suami istri ini pura-pura tidur, diam-diam si istri mengambil pisau cukur untuk memotong rambut suaminya, melihat istrinya membawa pisau, suami itu segera mengambil pedang lalu membunuh istrinya..
Akhirnya, kabilah wanita itu mendengar saudari mereka dibunuh segera membunub pria tersebut, tentu saja kabilah pria itu tidak terima, akhirnya terjadi perang besar antara dua kabilah tersebut. Demikianlah yang dinukilkan, andaipun sanadnya tidak sahih, kenyataan telah membuktikan bahwa itu sering terjadi..

🚫Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab memasukkan namimah sebagai salah satu jenis sihir, karena sangat halus dan samar cara kerjanya. Ini menegaskan bahwa namimah itu adalah salah satu penyakit yang merusak tauhid seseorang.

Oleh sebab itu, wajib setiap muslim menjauhinya, bertobat dari dosa ini dengan taubat nashuha, bukan sekedar minta maaf lalu selesai urusannya, hendaknya dia memiliki sikap tegas dalam menyaring berita yang sampai kepadanya, mendahulukan husnu zhan terhadap saudaranya, atau memberikan sebanyak mungkin ihtimalaat terhadap apa yang muncul dari saudaranya..menasehatinya, seandainya dia menerima, itulah yang diharapkan..kalau tidak, meskipun kita menyintainya, al haqq ahabbu ilaina minhu (al haq lebih kita cintai daripada dia) sehingga kita utamakan al haqq untuk dibela..
oleh sebab itu, ketika kesalahan telah menyebar, dan menimbulkan keresahan, harus diterangkan bahwa itu salah..dan itu bukan namimah..atau ghibah..

Hendaklah setiap mukmin waspada..
ketat menjaga lidahnya, senantiasa diarahkan kepada yang diridhai Allah..
sungguh semua kebaikan ada dalam sikap ittiba (mengikuti) para salaf..
sikap mereka terhadap bida’ dan ahli bida’ jelas..
bukan untuk menyingkirkan mereka dari tubuh kaum mukminin..
melainkan membersihkan mereka..
siapa mukmin yang suka sebagian tubuhnya terlihat kotor?
Seketika dia melihat kekotoran itu, dia cuci bersih dengan air, atau ditambah sabun atau kain untuk menghilangkan kotoran itu, bukan langsung diputus dan dibuang bagian tubuh yg ternoda, tidak.

Namun, ketika noda tidak hilang juga, seorang mukmin terpaksa tetap membawanya, maka dia harus mengingatkan orang lain agar jangan terkena noda yang sama berbahaya, sulit hilangnya atau lainnya, jangan sampai saudaranya ternoda sepeti dia..apa artinya?

Itulah tanda cintanya kepada saudaranya..
semoga Allah merahmati dan menjaga syaikh Rabi’ yang selalu menunjukkan cintanya kepada salafiyyin, tetapi sedikit sekali yg menyambutnya..beliau dikenal berhati-hati dalam urusan dakwah yang mulia ini..bahkan pernah memarahi seorang thalibul ilmi ketika menyampaikan berita bahwa si fulan berbicara tentang beliau.

mudah-mudahan Allah memberi kita taufik untuk menjaga lisan kita, agar selalu bicara tentang al haq dengan hikmah..semoga Allah membimbing para asatidz untuk selalu mengikuti arahan ulama dan berjalan bersama mereka dalam semua urusan dakwah yg mulia ini..menyatukan hati-hati  mereka di iman dan takwa.

amiin.

Sifat-Sifat Shabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Bismillah


Al-Hasan al-Bashri rahimahullah ditanya, “Kabarkanlah kepada kami tentang sifat-sifat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!”
Beliau rahimahullah menangis lalu berkata,
“Tampak tanda-tanda kebaikan pada tampilan luar dan perilaku mereka. Terlihat pulu petunjuk dan kejujuran mereka. Mereka berpakaian kasar karena sederhana. Cara berjalan mereka menunjukkan kerendahan hati. Ucapan mereka sesuai dengan amalan. Makanan dan minuman mereka berasal dari rezeki yang baik. Tampak pula ketundukan mereka dengan melakukan amalan ketaatan kepada Rabb mereka. Mereka patuh terhadap kebenaran, baik dalam hal yang mereka sukai maupun tidak. Mereka juga menunaikan hak orang lain yang ada pada mereka.
Siang hari mereka lalui dalam keadaan haus (karena berpuasa). Tubuh mereka pun kurus.
Demi meraih ridha al-Khaliq, kemarahan makhluk mereka anggap ringan. Kemarahan tidak menyebabkan mereka melampaui batas. Kezaliman pun tidak membuat mereka sewenang-wenang (membalas). Mereka tidak pernah melampaui batasan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an.
Mereka korbankan darah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta mereka membela (agama-Nya, -red.). Mereka serahkan harta ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala meminjamnya (yakni berinfak fi sabilillah, -red.). Mereka tidak terhalangi oleh rasa takut kepada para makhluk.
Akhlak mereka bagus. Bahan makanan mereka dari kualitas yang rendah. Mereka merasa cukup dengan sedikit dari dunia demi akhirat mereka.”
(Hilyatul Auliya 2/150, dan Tahdzib al-Hilyah 1/336, dari Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 42-44)
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 98/IX/1435 H/2013, rubrik Permata Salaf.