Kamis, 15 Agustus 2013

Hukum Tentang Wanita Melihat Laki-Laki di Televisi dan di Jalanan

Ummu Abdillah Al-Wadi‘iyyah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengabarkan terhadap apa yang mereka perbuat. Dan Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,”
(An-Nur: 30-31)


Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anahu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَة، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُُ، وَالنَّفُسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia akan mendapatkannya, tidak bisa terhindarkan. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram), dan zinanya lisan dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.”
(HR. Al-Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)


Ulama sepakat, sebagaimana dinukilkan Imam Nawawi rahimahullahu dalam Syarah Muslim bahwasanya memandang laki-laki dengan syahwat haram hukumnya.

Sebagian ulama membolehkan untuk memandang laki-laki secara mutlak. Mereka berdalil dengan kisah Aisyah radhiallahu ‘anha yang melihat orang-orang Habasyah yang sedang bermain tombak (perang-perangan) di masjid sampai ia bosan dan berlalu.
وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ عَلَى بَابِ حُجْرَتِي وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ لِكَيْ أَنْظُرَ إِلَى لَعِبِهِمْ ثُمَّ يَقُومُ مِنْ أَجْلِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ فَاقْدِرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ حَرِيصَةً عَلَى اللَّهْوِ
“Demi Allah, Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu kamarku, sementara orang-orang Habasyah sedang bermain tombak di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menutupiku dengan kainnya agar aku dapat melihat permainan mereka. Kemudian beliau berdiri (agar aku lebih leluasa melihat), sampai saya sendiri yang berhenti (setelah bosan) melihatnya. Karena itu, berilah keleluasaan kepada anak-anak wanita untuk bermain.”
(Riwayat Muslim no. 1481)


Imam Nawawi rahimahullahu menjawab dalil mereka ini bahwasanya peristiwa itu mungkin terjadi ketika Aisyah belum baligh.
Namun Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullahu membantahnya dengan mengatakan ucapan Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupinya dengan selendang beliau menunjukkan peristiwa ini terjadi setelah turunnya perintah hijab. (Dan Aisyah dihijabi oleh beliau menunjukkan bahwa Aisyah telah baligh).
Imam Nawawi rahimahullahu memberi kemungkinan yang lain, beliau mengatakan: Dimungkinkan Aisyah hanya memandang kepada permainan tombak mereka bukan memandang wajah-wajah dan tubuh-tubuh mereka. Dan bila pandangan jatuh ke wajah dan tubuh mereka tanpa sengaja bisa segera dipalingkan ke arah lain saat itu juga.
(Lihat Fathul Bari 2/445).
Dengan demikian, hendaklah seorang wanita memiliki rasa malu dan jangan membiarkan pandangan matanya jatuh kepada sesuatu yang tidak diperkenankan baginya, termasuk memandang laki-laki yang bukan mahramnya.
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
(Nashihati Lin Nisa karya Ummu Abdillah Al-Wadi‘iyyah hafizhahallah, putri Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu)

Sumber : http://catatanmms.wordpress.com/2013/01/13/hukum-tentang-wanita-melihat-laki-laki-di-televisi-dan-di-jalanan/

Sudahkah Ikhlas Karena Allah ? Yakin ?

Dengan berharap wajah Allah, suatu nikmat yang tiada terduga. Kebahagiaan sesungguhnya adalah kebahagiaan bisa berjumpa dan bertemu dengan Allah Sang Rabb dan Rasulullah Sang KekasihNya. ^_^

Cara Mengetahui Kadar Keikhlasan Diri Kita

Ditulis oleh Al-Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas
Dan dari tanda-tanda lemahnya keikhlasan atau tidak adanya keikhlasan -wal ‘iyaadzu billah- sebagai berikut :
  1. Riya dan Sum’ah: Dia menyukai agar manusia melihat amalannya atau mendengarkan apa yang telah dia amalkan.
  2. Meminta keridhaan kepada para makhluk dan mendahulukannya dari pada keridhaan Sang Pencipta.
  3. Meminta ganti atau timbal balik dari pekerjaannya kepada para makhluk walaupun gantinya itu secara makna seperti pujian dan kekaguman.
  4. Giat jika di sana terdapat pujian dan sanjungan, dan bermalas-malasan dan lalai jika di sana mendapatkan aib dan celaan
  5. Dia akan rajin jika dilihat oleh manusia dan dia bermalas-malasan jika tidak dilihat oleh manusia.
  6. Melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam kesendirian dengan menampakan penghormatannya di depan manusia.
  7. Mencari ketenaran.
  8. Dia akan mengamalkan jika muncul sesuatu dan tidak mengamalkan jika diremehkan.
  9. Menolak nasehat dan tidak menerima keritikan yang tepat/benar.
  10. Pengikut hawa nafsu.
  11. Hasad kepada saudaranya yang telah melampauinya di dalam perkara-perkara yang mendekatkan diri kepada Allah, seperti menghafal Al-Qur’an atau dalam menunaikan usaha yang baik atau mencari ilmu.
  12. Kikir dan tidak mau berkorban untuk da’wah.
  13. Menghinakan diri di tempat yang terbuka untuk menampakan bahwasanya dia adalah orang yang tawadhu’.
Dan adapun tanda-tanda kuatnya keikhlasan itu sebagai berikut :
  1. Dia berniat ikhlas kepada Allah di setiap waktu.
  2. Agar dia menjadikan perbuatan yang keadaannya sepi itu lebih dia senangi dari pada perbuatan yang terlihat.
  3. Agar dia menjadikan perbuatannya di tempat yang tersembunyi seperti perbuatannya di tempat yang terlihat atau lebih utama lagi.
  4. Dia beramal kebaikan dimanapun dia berada, kapanpun waktunya dan di dalam keadaan apapun juga.
  5. Selalu mendahulukan kebenaran di atas apapun juga walaupun menyelisihi hawa nafsunya.
  6. Dia mengerjakan kebaikan dan dengan itu pula dia takut akan tidaknya diterima amal kebaikan tersebut, seperti yang telah datang dari hadits Aisyah Radiyallahu ‘anha berkata: ”Aku bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini :

(وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (المؤمنون :60

Artinya : ”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.
(QS. Al-Mukminun: 60)
berkata Aisyah Radiyallahu ‘anha: ”Mereka itu adalah orang-orang yang meminum -minuman keras dan mencuri.” Rasulllahu Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda: ”Tidak wahai anak wanita Ash-Shiddiq, bahkan mereka itu adalah orang–orang yang berpuasa, melaksanakan shalat dan bershadaqah dan mereka takut untuk tidaknya diterima amalan tersebut.” 

(أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ ( المؤمنون :٦١

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang berlomba-lomba untuk memperolehnya.
(QS. Al-Mukminun: 61)[1]
Dan ini ada seorang manusia yang melaksanakan shalat dan memanjangkan shalatnya dan seorang laki-laki di belakangnya melihat, dan fahamlah dia apa yang ada padanya, maka ketika selesai shalatnya maksudnya ketika dia salam, dia berkata: ”Janganlah kamu merasa kagum dengan apa yang telah kau lihat dariku, sesungguhnya iblis telah beribadah kepada Allah bersama para Malaikat bermasa-masa.”[2]
(Al-Ikhlaash Liman Araadal Kholaash hal 9)
[1] HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan Asy-Syaikh Albani Rahimahullah diAs-Silsilah Ash-Shahiihah no 162. Aku (Asy-Syaikh Albani Rahimahullah-pent) berkata: ”Dan rahasia di dalam ketakutan orang-orang mukmin adalah takut akan tidak diterimanya ibadah-ibadah mereka, bukan maksud ketakutannya adalah untuk tidak ditunaikannya pahala-pahala mereka oleh Allah Azza Wa Jalla, maka sesungguhnya ini menyelisihi janji Allah kepada mereka seperti difirman Allah Azza Wa Jalla,

(فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ (النساء: ١٧٣

Artinya: ”Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka.” (QS. An-Nisaa’: 173)
Bahkan sesungguhnya Allah benar-benar akan menambahkan atas pahala-pahala mereka, seperti yang Allah Azza Wa Jalla telah firmankan,

(لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ ( فاطر: ٣٠

Artinya: ”Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala-pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” 
(QS.Faathir: 30)
Dan Allah Azza Wa Jalla tidak menyelisihi apa yang telah Dia janjikan seperti Allah firmankan di dalam KitabNya, dan hanya saja rahasianya itu sesungguhnya penerimaan amalan itu berkaitan dengan cara melaksanakan ibadah itu seperti yang diperintahkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, dan mereka tidak bisa memastikan bahwasanya mereka telah melaksanakannya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah Azza Wa Jalla. Bahkan mereka mengira bahwasanya mereka telah berbuat lalai di dalam permasalahan itu. Untuk itu mereka takut untuk tidak diterimanya amalan-amalan mereka.
Maka agar orang yang beriman merenungkan perkara ini, dan semoga dia menambahkan keingininannya yang sangat di dalam memperbaiki amalan ibadahnya, dan mengerjakannya seperti yang diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla, dan itu dengan perbuatan ikhlas di dalam mengamalkan ibadah kepadanya, dan mengikuti NabiNya Shalallahu Alaihi Wasallam di dalam melaksanakan ibadah dengan petunjuknya, dan itu adalah arti dari firman Allah Azza Wa Jalla,

(فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ( الكهف :١١٠

Artinya : ”Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia melakukan persekutuan dalam beribadat kepada Rabbnya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
(As-Silsilah Ash-Shahiihah hal 1/198)
[2] Disini ada catatan bahwasanya seseorang yang masih hidup itu tidak aman dari suatu fitnah. Bahkan permisalan yang sangat jelas ini diberikan kepada iblis yang mana ia adalah sosok ahlul ibadah yang beribadah bermasa-masa kepada Allah Azza Wa Jalla bersama para malaikatNya. Bahkan Allah telah memasukannya dengan panggilan malaikat seperti di dalam surat (Al-Baqarah :34) bagaimana dengan orang yang di bawah dari itu kedudukannya maka apa lagi.
Dan juga Abdullah Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu berkata: ”Janganlah salah seorang dari kalian mengikuti seseorang tentang agamanya, maka jika ia beriman diapun akan beriman, dan jika dia kafir diapun akan kafir, maka jika kalian tidak ada jalan lagi kecuali mengikuti, maka ikutilah orang-orang yang telah wafat sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidak aman akan terjatuhnya dia kepada fitnah.”
(Hilyatul Auliyaa’i Wa Thabaqaatil Ashfiyaa’ Li Abi Nu’aim Al-Ashfahaani Rahimahullah 1/136)
Dan Syaikh Abdullah Al-Mar’ii Hafidzahullah pernah bercerita tentang murid seniornya Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah yang dia telah dipercaya oleh Syaikh Al-Utsaimin dalam mengajar dll. Setelah wafatnya Syaikh Al-Utsaiman Rahimahullah, dia telah melenceng dan menjadi seorang hizbi, Nas’alullah As-Salaamah Wayutsabbitana ‘Alal Islaam Wa Sunnati Nabiyyina Shalallahu Alaihi Wasallam Wal Khulafaa’ Ar- Raasyidiin Al-Mahdiyyin Laa Sunnata fulaan walaa ‘Allaan. Dan semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini. Aamiin, aamiin, aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. Dan sesungguhnya ini peringatan untuk diriku khususnya yang masih selalu berusaha untuk mempraktekannya dan juga orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan itu adalah sifat-sifat orang-orang yang beriman,

(وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (الذاريات :٥٥

Artinya: ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
(Qs.Adzaariyaat:55)
Adapun selain orang-orang yang beriman maka sifatnya adalah sebaliknya,

(وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلا نُفُورًا ( الاسراء :٤١

Artinya: ”Dan Sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan pengulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).”
(QS. Al-Isro’:41)
Wash-sholaatu ‘Ala Muhammadin Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin.

Sumber : http://catatanmms.wordpress.com/2012/11/19/sudahkah-ikhlas-karena-allah-yakin/

Adab-Adab Berjalan

Bismillahirahmanirahim


Aktifitas yang satu ini tidak bisa lepas dari keseharian kita. Baik didalam ruangan maupun diluar ruangan. Lalu bagaimana pula sikap dan cara kita mengatur gerakan yang satu ini? Adakah ketentuan dan rambu-rambu syariat yang mesti kita lakukan? Ya, ada beberapa aturan Islam dalam hal berjalan, diantaranya sebagai berikut:

1. BERSIKAP TAWADHU DAN TIDAK SOMBONG DALAM BERJALAN
Dada dibungsungkan, kepala agak tegak sedikit, dan sikap berjalan yang lain yang mencerminkan kesombongan tidaklah Allah subhanahu wata’ala ridhai. Bahkan, sikap seperti ini justru akan mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًۭ
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”
(QS.Al-Isra’: 37)
Demikian pula dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}
Dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
(QS. Luqman:18)

2. TIDAK BERJALAN DENGAN HANYA MEMAKAI SATU SANDAL
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن الشيطان يمشي في النعل الواحدة
“Sesungguhnya syaithan berjalan dengan 1 sandal.”
(HR Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani dalam Ash Shahihah)
Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
لا يمش أحدكم في نعل واحدة ولينعلهما أو ليخلعهما جميعا
Janganlah salah seorang dari kalian berjalan menggunakan satu sandal, dan hendaklah ia memakai semuanya atau melepaskan semua”
(HR. Al-Bukhory  dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Demikianlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa memakai satu sandal dalam berjalan adalah amalan syaithan. Sedangkan kita diperintahkan untuk menyelisihi semua tindak tanduk syaithan. Sebab, syaithan berupaya untuk menyelisihi syariat Allah dan mengajak manusia untuk mengikutinya.

3. SESEKALI BERTELANJANG KAKI DALAM BERJALAN
Berdasarkan perkataan Fudhalah radhiyallahu ‘anhu:
(كان النبي صلى الله عليه وسلم يأمرنا أن نحتفي أحياناً) (رواه أحمد)
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami agar kadang-kadang telanjang kaki (ketika berjalan).”
(HR Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam silsilah Kitab Ash Shahihah dan kitab Shahih Sunan Abi Dawud)

4. MELAKUKAN CARA JALAN YANG BAIK DAN MENINGGALKAN CARA JALAN YANG TIDAK BAIK

*) Adapun berjalan yang baik adalah sebagai berikut:
a. Berjalan dengan cepat, tenang dan baik
Hal ini sebagaimana cara jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling cepat jalannya, paling baik dan tenang.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita: “Saya tidak pernah melihat orang yang paling gagah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seakan-akan matahari berjalan diwajahnya, dan saya tidak pernah melihat seseorang yang paling cepat jalannya daripada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, seakan-akan bumi terlipat untk beliau.”
(HR At-Tirmidzi)
Cepat dalam berjalan tidak berarti tergesa-gesa. Namun, cepatnya jalan beliau menandakan kekuatan dan semangat ketika berjalan.
b. Berjalan tegak dan tidak bungkuk
Demikianlah contoh cara jalan yang baik. Sebagaimana ini adalah cara jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam orangnya berpostur sedang, tidak tinggi ataupun pendek, fisiknya bagus. Warna kulitnya kecoklatan. Rambutnya tidak keriting, juga tidak lurus. Apabila berjalan, beliau berjalan dengan tegak.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Beliau berjalan dengan tegak layaknya orang yang sedang menapaki jalan menurun.”
(HR AT-Tirmidzi)
c. Memosisikan badan condong kedepan
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
” Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan, beliau condong kedepan seakan-akan beliau turun dari shahab (tempat yang tinggi).”
(HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Jalan seperti ini adalah jalannya orang-orang yang memiliki tekad dan keinginan yang kuat.

**) Adapun cara jalan yang tidak baik, misalnya:
a. Banyak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika berjalan
Disebutkan dalam riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila beliau berjalan, beliau tidak menoleh.”
(HR Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam shahihul jami’)
Banyak menoleh ketika berjalan adalah sifat orang yang bimbang, takut atau seorang pencuri. Sehingga amalan ini tidaklah berfaedah, bahkan merupakan perkara yang tercela. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah mengatakan, “Dua perkara yang menggolongkanmu menjadi seorang yang dungu atau bodoh; Banyak menoleh dan bergegas dalam menjawab.”
(Adab Asy syar’iyyah)
Ibrahim An Nakhai rahimahullah juga mengatakan, “Bukan termasuk sikap terhormat, banyak menoleh dijalan.”
Adapun menoleh karena kebutuhan, tentulah hal ini diperbolehkan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah melakukan. Namun termasuk adab pula adalah bila menoleh, hendaknya tidak hanya kepala, tapi sertakan pula badannya.
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menoleh, beliau menoleh dengan keseluruhan (badan) beliau.”
(HR Ahmad dalam Al Musnad dan Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam shahih Al Adabul Mufrad)
b. Bersikap lemah ketika berjalan
Sikap lemah ketika berjalan adalah lawan dari sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat. Oleh karenanya, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengingkari cara berjalan seperti ini, dan membandingkan dengan cara jalan Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Dahulu Umar radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pembaca (penghapal Al Qur’an). Namun, bila berjalan ia cepat, bila berbicara terdengar dan bila memukul (menghukum) memberikan rasa sakit.”
(Al Kaamil)
c. Berjalan meniru cara berjalan lawan jenis
Meniru lawan jenis, baik dari gaya bicara, pakaian, sikap, termasuk gaya berjalan, hukumnya haram. Berdasarkan keumuman larangan menyerupai lawan jenis.
Nah demikian sekelumit pembahasan hukum dan tata cara berjalan dengan baik dan benar. Semoga berfaedah. aamiin (hammam).

Sumber: catatanmms.wordpress.com/2013/03/26/adab-adab-islami-dalam-berjalan/